Bukan Untuk Dibaca (Gebyar Karya KMP 2016)

Yayuk HidayahTulisan singkat ini merupakan oleh-oleh dari acara gebyar karya KMP UNY 2016 dari tanggal 13- 15 Mei 2016 di Museum Pendidikan Indonesia (MPI UNY) tepatnya dalam acara “Talk Show Penulisan Paper Go Internasional” pada hari Sabtu, 14 Mei 2016 pukul 08.00 – 13.00 dengan pembicara pertama Bapak Moh. Khairudin, M.T,. Ph.D dan pembicara kedua Ibu Losina Purnastuti, S.E,. M.Ec., Dev,. Ph.D, dan tulisan singkat ini penulis persembahkan bagi teman-teman yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir pada program pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. Penulis memakai judul “ Bukan untuk dibaca” karena penulis mengharapkan dari pembaca bahwa tulisan singkat ini bukan hanya sekedar untuk di baca.

Kemasan acara “Talk Show Penulisan Paper Go Internasional” jujur saja menjadi daya tarik tersendiri untuk mengikuti acara ini dengan harapan dapat menjawab rasa haus akan dunia ke jurnalan. Kenapa demikian? benar saja karena bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan tugas akhir, salah satu yang menjadi kewajiban dalam penyusunannya adalah adanya refrensi artikel yang di publikasikan pada jurnal ilmiah untu tesis minimal 10 (sepuluh) dan 20 (dua puluh) untuk disertasi setiap variabelnya sesuai buku “Panduan Penyusunan Dan Penilaian Tesis Dan Disertasi” di halaman 16 tahun 2014.

Kembali ke acara “Talk Show Penulisan Paper Go Internasional” mendapat sedikit pencerahan. Pada awal perkuliahn dulu jujur saja syarat refrensi tersebut sulit, namun di zaman yang serbateknologi ini dengan melimpahnya sumber belajar, kita akan semakin dipermudah untuk mengakses informasi, dan benar saja tidak ada alasan tidak ada buku di perpustakaan, tidak ada waktu untuk membaca, karena berbagai sarana informasi bisa di katakan memudahkan untuk kita berselancar mencari refrensi.

Meskipun terkadang terkendala bahasa pada refrensi tersebut, sekali lagi penulis berpandangan bahwa itu bukan menjadi alasan untuk membuat kita menyerah pada keadaan karena dengan bantuan teknologi bahasa-bahasa asing tersebut dalam hitungan detik dapat kita baca versi bahasa Indonesianya. Bukan bermaksud menyepelekan, hanya saja berusaha memberikan semangat yang membara pada teman-teman semua bahwa selalu ada jalan menuju penjilidan tesis sesuai dengan etika tentunya.

Selanjutnya, pemateri ke dua Ibu Losina Purnastuti, S.E,. M.Ec., Dev,. Ph.D menyampaikan materi mengenai publikasi karya tulis, penulis tertarik ketika beliau mengatakan “ karya kita di alih bahasakan ke bahasa asing, adalah bukan sepenuhnya di bahasakan asing, tugas peng alih bahasa hanyalah soal tata bahasanya, tetapi soal jargon ilmu tetap kita yang pegang” beliau juga menyampaikan bahwa beliau pernah terkendala mengenai penggunaan istilah pada salah satu karyanya. Seketika saya terhentak, ada benarnya yang beliau sampaikan, karena terkadang terdapat istilah-istilah (sesuai disiplin ilmu) yang terkesan di paksakan untuk di asingkan, sehingga kita yang mendalami ilmu tersebut menjadi terheran-heran sendiri. Hal ini penulis sampaikan bukan bermaksud untuk mengprovokasi, tetapi bermaksud untuk menggugah daya keilmiahan teman-teman dalam disiplin ilmu masing-masing, tentu saja penulis tidak mempunyai indikator keilmiahan tersebut penulis hanya menekankan pada jargon ilmu masing-masing adalah teman-teman yang tau.

Penyampaian materi mengenai jurnal predator, menjadi suatu pengalaman tersendiri bagi penulis untuk lebih selektif menggunakan jurnal sebagai refrensi karena di dunia yang sangat “ilmiah” ini masih ada saja sebutan jurnal predator. Mengutip dari http://kbbi.web.id/ yang diakses pada tanggal 18 Mei pukul 19.21 WIB penulis mengetahui bahwa refrensi adalah 1. sumber acuan (rujukan, petunjuk): kamus dapat dipakai sebagai bahan –; 2 buku-buku yang dianjurkan oleh dosen kepada mahasiswanya untuk dibaca: buku wajib dan buku — tersedia lengkap di perpustakaan; 3 buku perpustakaan yang tidak boleh dibawa ke luar, harus dibaca di tempat yang telah disediakan; 4 Ling hubungan antara referen dan lambang (bentuk bahasa) yang dipakai untuk mewakilinya. Maka dengan demikian sebagai akademisi yang diharapkan membawa perubahan hendaknya tetap menggunakan etika dan kemauan yang kuat untuk tetap konsisten dalam mempertahankan karakteristik akademiknya.

Semoga penelitian yang dilakukan di tugas akhir ini bukan hanya penelitian yang berakhir dalam sebuah tumpukan kertas tetapi juga sebagai salah satu bentuk tanggung jawab pengabdian pada masyarakat dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan. Demikianlah tulisan singkat ini, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik penulis sebagai manusia biasa. Semoga tulisan ringan ini bermanfaat, terima kasih dan selamat berjuang teman-teman.

Yayuk Hidayah
Penulis adalah mahasiswi PPKn PPS UNY angkatan 2014
Staf Riset dan Penelitian (RnP) Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) 2014
Universitas Negeri Yogyakarta

KMP UNY

Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) UNY

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

7 + 6 =


+ 43 = 52