Mewujudkan Generasi Emas Melalui Pendidikan Karakter

MEWUJUDKAN GENERASI EMAS MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER

Oleh: Ulya Amelia – Manajemen Pendidikan, 2016

 

Pendidikan karakter adalah konteks yang penting pada abad 21 untuk mengatasi krisis moral yang melanda Indonesia. Untuk itu pemerintah membuat kebijakan pendidikan dalam kurikulum 2013 untuk memiliki peserta didik yang berkarakter. Dengan bantuan pelaku pendidikan, pemerintah, pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat peserta didik dapat memperoleh pendidikan karakter yang efektif. Selain itu untuk menghadapi perkembangan teknologi dan komunikasi peserta didik membutuhkan guru yang professional.

Karakter adalah sebuah kata yang tidak terdengar asing. Karakter merupakan wujud abstrak dari manusia dalam bentuk perilaku dan kebiasaan yang yang dapat menjadi jadi diri bagi individu. Karakter terbentuk pertama kali di dalam keluarga dimana manusia dididik dan diajarkan nilai-nilai untuk pertama kali. Selain dari keluarga, terdapat beberapa hal yang mempengaruhi karakter seseorang, seperti: agama yang mengatur seluruh tata cara perilaku manusia, lingkungan yang dimulai dari dari pertemanan sekawan dan lingkungan sekitar, serta sekolah yang merupakan lembaga formal dalam pembentukan karakter dan jati diri seseorang. Jadi, karakter seseorang akan terbentuk dimana pun mereka berada.

Lalu bagaimana dengan pendidikan karakter?

Indonesia berada pada urutan keempat  untuk angka jumlah penduduk terbanyak di dunia. Menyikapi ini tentu Indonesia membutuhkan generasi unggul yang dapat memajukan dan menaikkan derajat bangsa. Salah satu upaya untuk menghasilkan generasi yang unggul adalah dengan adanya pendidikan berkarakter. Di samping itu, Indonesia telah mencetuskan 5 pilar pemersatu bangsa yang hendaknya dipahami oleh seluruh generasi penerus bangsa melalui pendidikan di sekolah.

Sekolah sebagai salah satu solusi dalam membentuk siswa berkarakter.  Salah satu caranya adalah melakukan kiat-kiat pencerdasan generasi penerus bangsa, tentu salah satunya melalui jalur sekolah. Oleh karena itu pemerintah membuat kebijakan melalui Undang-undang RI NO 20 Tahun 2003 pasal yang menyebutkan fungsi dari pendidikan Nasional untuk mencerdaskan dan membentuk karakter bangsa. Empat nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter adalah: nilai agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Indonesia sebagai negara beragama tentunya menganut faedah yang mereka percaya dari agamanya.

Pada tahun 2045 merupakan target generasi emas yaitu generasi yang saat ini sedang mengenyam pendidikan sehingga akan meraih kesuksesan di tahun 2045. Untuk itu, saat ini perlu adanya usaha mempersiapkan generasi tersebut yang menyelaraskan dengan perkembangan zaman yang semakin pesat. Oleh karena itu pemerintah merancang kurikulum 2013 sebagai persiapan generasi emas di tahun 2045 kelak.

Kurikulum 2013 sangat berbeda dengan pendidikan yang diterapkan dulu. Pada masa lalu melakukan pembelajaran kepada siswa yang berifat pendengar pasif dan duduk manis, sedangkan pembelajaran yang dilakukan sekarang mendorong siswa memiliki kemampuan analisis, kreatif, reflektif, dan aktif .  Sebagai contoh dalam pembelajaran seni rupa di sekolah yang dilakukan oleh siswa yaitu (1) menganalisis bagaimana cara membuat garis tanpa rol, memahami sudut pandang, cara memegang pensil, dsb, (2) siswa menmbulkan ide-ide yang kreatif untuk mengambar suatu objek, (3) siswa berfikir kritis dalam menggambar objek berdasarkan dengan bentuk objek yang sesungguhnya, dan (4) keaktifan siswa dalam menguasai pembelajaran seni rupa tersebut.

Kurikulum 2013 mempertimbangkan segala sisi manusia yang tidak hanya bertitik pada pencapaian akademis. Adanya kebijakan ini dikarenakan dunia sekarang ini dihadapkan dengan krisis karakter dimana kejahatan yang merajalela dimana-mana, seperti korupsi yang merupakan bahan pemikiran banyak pihak. Hal dapat terjadi karena kurangnya penekanan pembentukan karakter pada kurikulum sebelumnya. Oleh karena itu diharapkan kurikulum 2013 yang mempertimbangkan terbentuknya perilaku positif dan akhlak yang muliadapat menjadi jawaban krisis karakter yang terjadi saat sekarang ini dan mampu menghasilkan pribadi yang dapat bersaing secara sehat dikemudian hari.

Lulusan kurikulum 2013 dituntut untuk dapat memiliki kemampuan dalam (1) memecahkan masalah, (2) berfikir kritis,(3) inovatif dan (4)  enterpeuner untuk bersaing di dunia kerja atau global. Alasan kenapa siswa dituntut untuk dapat memecahkan masalah adalah agar dapat menghadapi resiko yang lebih banyak dalam situasi yang tidak pasti di abad 21 ini. Untuk itu siswa harus mempunyai kemampuan dan pengetahuan yang kompleks dibandingkan pembelajaran masa lalu.

Tetapi implementasi dari pendidikan karakter belum merata di seluruh Indonesia dan juga bukanlah hal yang dapat dilakukan secara instan karena dapat memiliki beberapa penghalang mulai dari fasilitas, akses, dan sumber daya manusia. Keterbatasan fasilitas tidak dapat dinikmati secara merata di seluruh bagian Indonesia, masih banyak bagian pelosok negeri yang belum dapat mengenyam pendidikan.

Sekolah di daerah terpencil yang  sulit untuk dijangkau bagi sebagian peserta didik yang bahkan harus menyeberangi sungai dan bukit untuk sampai di sekolah. Dan generasi unggul akan lahir dari tenaga pengajar yang baik pula. Seperti tenaga pengajar yang tidak memiliki karakter yang tidak dapat dijadikan panutan bagi siswa. Bagaimana siswa akan memiliki karakter yang baik dimana mereka memperhatikan contoh yang tidak baik dari guru, seperti guru yang melakukan perbuatan tidak senonoh kepada siswanya yang akan melahirkan siswa berkarakter buruk seperti tawuran, narkoba, dll karena siswa tidak dapat menerima penerapan dari guru yang tidak kompeten dalam penyaluran karakter positif.

Dalam implementasinya, pendidikan karakter hendaknya dibentuk dengan cara yang sistematis yang di dalamnya terdapat aspek afektif, kognitif dan psikomotorik yang berjalan beriringan dalam proses pendidikan. Sebagai contoh wujud implementasi tiga hal diatas adalah ketika seorang telah mampu untuk menjadi seorang siswa cerdas dalam proses belajar di kelas, memiliki akhlak yang baik, serta aktif dalam kegiatan ekstra maupun olahraga. Tanpa adanya sikap yang baik maka perkembangan pengetahuan dapat menurunkan nilai luhur banga, melemahkan kepribaadian yang baik, dan membuat generasi bangsa sebagai generasi yang tidak berpotensi mempertahankan dan mengembangkan kesejahteraan banga.

Disamping itu ada  tipe atau karakter dari individu adalah (1) kolektif yaitu individu yang tegas, berapi-rapi suka tantangan, (2) sanguine adalah tipe individu yang praktis, cria, suka kejutan dan suka dengan kegiatan sosial. (3)  plegmatis adalah individu yang suka bekerja sama, menghindari perelisihan, tidak gegabah, suka kedaimaian, dan menyukai ha yang pasti, (4) melankoli adalah individu yang suka menyimpan kemarahan, perfeksionis dan suka dengan kegiaan yang rutin. Dengan berbagai macam ciri-ciri siswa maka tugas pendidik dan tenaga kependidikan adalah mengarahkan mereka dengan pendidikan berkarakter agar semua jenis karakter dapat menjadi generasi emas.

Dalam penerapannya, terdapat beberapa kendala dalam persiapan generasi berkualitas disekolah seperti pengaruh lingkungan yang tidak mendukung revolusi ini seperti masyarakat dan teknologi serta komunikasi. Memang sekolah berperan penting membentuk pribadi-pribadi berkualitas, tetap jika keluarga atau masyarakat masih menunjukan prilaku yang yang akan merusak mental-mental yang telah dikonsepkan di sekolah, maka akan sulit untuk terwujudnya pribadi yang berkualitas.

Selanjutnya, perkembangan ilmu teknologi dan komunikasi  selain dapat memberikan dampak positif, juga berdampak negatif yang akan menimbulkan generasi yang terbelakang. Sebagai contoh, ditayangkannya film-film yang dapat merusak generasi dalam bentuk budaya berfoya-foya, melanggar peraturan sekolah maupun lalu lintas, pergaulan bebas, dan penggunaan narkoba yang secara gamblang dipertontonkan pada acara televisi. Selain itu, internet akan tidak menguntungkan bagi generasi penerus apabila para anak-anak dan remaja menghabiskan waktu bermain games di warung internet tanpa berperan aktif di lingkungan sekitar yang membiasakan prilaku anti sosial karena sikap sosial merupakan salah satu syarat penting yang harus dilatih untuk melahirkan pribadi yang berkualitas mempunyi karakter.

Untuk menghasilkan generasi emas yang berkarakter tentu harus mengetahui apa tuntutan dunia dan apa yang dibutukan oleh masyarakat. Pada abad modern ini perkembangan ilmu, teknologi dan komunikasi bergerak sangat cepat. Perkembangan ini menjadi kebutuhan bagi dunia untuk berkembang. Hal ini harus seiring dengan sikap masyarakat yang terbuka, beretika, dan toleran.  Karena perkembangan ini berkaitan dengan kesehatan, budaya, lingkungan, ekonomi, dan lainnya.  Dengan adanya sikap ini masyarakat dapat mengaplikasikan ilmu dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Salah satu tuntutan dunia abad 21 adalah keahlian dalam teknologi dan layanan yang cepat sehingga dapat bertahan dlam persaingan industri. Hal lain yang dapat menguntungkan dari mengikuti perkembangan adalah adanya kemajuan, peningkatan efektifitas, dan efesiensi kerja. Tetapi ada hal negatif dari mengikuti perkembangan jika tidak bisa dikontrol atau dipilah-pilah yaitu budaya asing yang masuk ke masyarakat sehingga dapat mengakibatkan ketidak harmonisan masyarakat, keenjangan mayarakat dan kecemburuan sosial, maka dari itu pendidikan berkarakter sangat dibutuhkan yang diajarkan oleh pendidik terhadap peseta didik.

Solusi dari masalah yang muncul dalam proses pendidikan karakter adalah memiliki guru yang professional. Guru yang professional akan meningkatkan hal belajar siswa lebih baik daripada guru yang belum professional. Guru professional memiliki tugas yang lebih banyak daripada gru biasa yaitu (1) membuat pembelajaran yang bermutu, (2) pembelajaran yang bermanfaat untuk lulusan, dan (3) pembelajaran yang relevan dengan dunia kerja. Dan kompetensi yang harus dimilki oleh guru professional adalah (1) basis pengetahuan, (2) pedagogi, (3) personal atribut, dan (4) kepemimpinan. Disamping itu guru professional harus terintegrai dan mempunyai  kemampuan kolaborasi, teknologi, komunikasi dan evaluasi. Dengan adanya kompetensi yang dimiliki oleh guru professional maka peserta didik dapat mengecam pendidikan berkarakter sehingga dapat menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Model  pendidikan pada abad 21 memiliki hal penting yaitu berfikir kritis, menyelesaikan masalah, kreatif, inovatif, komunikasi, dan kolaborasi. Kemudian dituntut untuk memiliki kesadaran akan kesehatan dan kebugaran,  rasa naionalime yang tinggi,  finansial, ekonomi, bisnis, enterpeuner, dan kesadaran global.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter penting untuk peserta didik dalam mengembangkan nilai agama, pancasila, budaya dan tujuan pendidikan nasional. Tujuan dari pendidikan karakter adalah agar generasi Indonesia dapat menunjukan jati dirinya untuk bersaing di dunia industry. Sekolah dan guru professional mempunyai peran penting dalam mewujudkan pendidikan karakter disamping adanya peran pemerintah, orang tua dan masyarakat. Cara mewujudkannya adalah dengan menyesuaikan dengan tuntutan pengetahuan dan apa yang dibutuhkan oleh peserta didik dan pemerintah telah memberlakukan dengan kurikulum 2013.  Dapat disadari bahwa perkembangan ilmu teknologi dan komunikasi berkembang pesat sehingga kebutuhan pendidikan harus disertakan dengan kemampuan ICT. Ada beberapa kendala dalam melaksanakan pendidikan pada abad 21 ini sehingga dengan adanya pendidikan karakter ini  mampu mengatasi hal negatif dari dampak perkembangan pengetahuan.

KMP UNY

Keluarga Mahasiswa Pascasarjana (KMP) UNY

You may also like...

2 Responses

  1. Mengapa untuk sekolah dasar kurikulum 2013 belum menyeluruh?, hanya sekolah2 tertentu saja, belum semuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

8 + 3 =


− 1 = 4